sapaan malam menjelang, membuka gerbang kehangatan perkumpulan manusia
memulai dengan ayunan nada-nada gitar bersama nyanyian-nyanyian jalanan,
meskipun terasa hangat dalam kebersamaan itu,
tak kusadari jalanku memang bukan ditempat itu,
kumulai merasakan kebimbangan, keresahan, tatapan kosong
menyertai bayanganku, dan harus kemana aku melangkah,
mengiringi terpaan angin malam saat itu, angin yang membawaku ke pojok sisi kehidupan,
disana akupun meminta satu atau dua permintaan yang sangat kontradiktif dengan kenyataan diduniaku saat itu, dan kapankah aku harus keluar dalam rongga-rongga kegelapan, mendekap dan menggoncangkan benak pikiranku, terlalu lelah kujalani, terlalu lama kulalui, terlalau jauh kulampaui, dan siapakah yang dapat merangkul aku untuk keluar dari lubang lorong-lorong gelap itu, setelah kucoba berpikir lagi, merasakan yang terjadi, ternyata tempatku bukan disisni, tempat yang keras, kehidupan yang sengit, pertempuran antara hitam putih, merusak akalku untuk maju, dan aku harus beranjak kesatu tempat, tempat perkumpulan yang lain, melewati jalan-jalan penuh rasa gelisah, kuhantarakan kakiku setapak demi setapak menuju bangunan putih berkubah, tersuci, dan terindah, yang kujumpai saat itu, setetes air penghilang dahaga, sejernih aura menghilangkan berkas noda-noda hitam melekat, dan akupun telah bangun dari tidurku yang sedikit nyenyak bersama mimpi-mimpi burukku.
Nuraniku pun terus menghantam tanya pada diri ini, kapan aku merapat pada jalanmu yang sekarang?
BalasHapus