Jumat, 20 Januari 2012
Tempat perasingan, dimana terletak di kepulauan Buru. Di sana tempatnya pekerja rakyat jelata. Saat itu tahun 1978, Hidero namannya, pria berkulit sawo matang, bertubuh tegap berambut ikal dan berdarah Minang.salah satu dari sekian banyak pekerja keras, beradu mulut dengan pekerja yang lain, dikarenakan Hidero dituduh menyembunyikan pakain kusut yang sering ia gunkana. Ditengah-tengah kegaduhan tersebut, dari arah barat terlihat pemuda gagah, berpakaian habu-abu yang bertugas mengawasi pekerja rakyat tersebut. Di penjajahan itu, memang terjadi sebuah pemaksaan dan ketertindasan yang di alami pekerja rakyat itu. Hidero dipanggilnya menghadap komandan kompeni, Hidero disuruh menceritakan dengan jawaban sejujur-jujurnya. Hidero tidak mengakui tuduhan yang dilontarkan teman sesama pekerja itu. Sang komandan menyuruh bawahannya untuk membawa Hidero ke suatu tempat, tempat itu itu terkenal mengerikan oleh sebagian pekerja yang lain, tempat dimana pekerja mendapat siksaan yang tidak manusiawi. Ketika itu Hidero dibawa oleh kedua anggota petugas yang berpawakan tegak, (bersambung)
zaman hegemoni
karya inovasi-inovasi itu membuatku salut atas kerja keras mereka, ku angkat topi dengan karya mereka, pemuda-pemuda penerus roda perputaran dunia, merobohkan sistem lama, generasi tua teganti dengan otak-otak penyegar. Satu persatu pembangunan direncanakan, dibangunnya gedung-gedung pencakar langit melampaui kubah suci itu. Tak terlewatkan ambisi-ambisi praktis mengikuti gerak zaman yang semakin cepat ini. Begitu pula sejarah, periode zaman terus silih berganti, mengikuti korelasi komunikasi aktor-aktor pengisi sejarah. Sampailah dengan zaman yang terelakan, zaman dimana manusia tak seperti manusia, zaman dibumbui berbagai rasa nilai-nilai sajian peradaban, sangat elok ketegangan peradaban yang dinobatkan peradaban modern, dengan perangkat praktis dan produk instan yang dihasilkan. Kemampuan yang tak terkendali mengunci fitrah individu-individu yang dapat melihat cahaya-cahaya keramahan, toleransi, menghargai, tanggung jawab maupun religiusitas. Bukankah memang fakta apabila zaman ini akan membungkam pikiran-pikiran kolot atau fundamental yang tak mampu mengikuti gerak modernisasi, yang membentuk monster liberalisasi, zaman mencaci orang-orang yang tak sejalan dengan prinsip dasar modernisasi, digantikan dengan sajian segar tersaji bagaikan makanan prasmanan pada suatu pesta kerajaan , yang bebas memilih dengan kehendaknya, dari keluarga raja merambah ke rakyat jelata yang dengan pesta bar-bar yang mereka gelar, dimana harus ditempatkan nilai-nilai suci ini, padahal zaman mulai memperlihatkan kesombongan-kesombongan dan keangkuhannya, dimana harus berlari jiwa-jiwa pencerah itu, ini bukan kesalahan yang tak ada sebab dan ini perkembangan natural, zaman memang bukan aktor aktif pelempar efek domino yang harus di paradigmakan sebagai zaman tak ramah, zaman di isi manusia, manusia penuh dengan karya dan inovasi yang terus merubah wajah zaman, namun mereka lupa mengenai keberadaannya, terkesan lupa dengan ibu pertiwinya tempat dimana mereka berlabuh, tempat dimana mereka harus bertanggung jawab, ini hanya sedikit dari makian dunia zaman ini, bukan zaman yang dipersalahkan , namun pengisi zaman yang terlalu brutal mengendalikan laju kehidupan tanpa landasan yang jelas yaitu dari fitrah sebenarnya.
Rabu, 18 Januari 2012
terlihat naif, ketika ku berkata cinta itu merubah titik hidupku, ketitik-titik yang lain, tapi this is reality. perasaan ini membodohkan logika berpikirku, layaknya aku berlutut dengan cinta, atau apalah namanya, cuma mengikuti perkataan universal, yang mengidentikan perasaan aneh ini dengan kata itu (cinta). Melihat dirimu, khususnya titik tengah bola matamu, memberi aku kekuatan untuk, menarik busur panah, atau amunisi, seperti amunisi pada senjata api AK-47, ataupun shootgun penembak hewan bertubuh besar (gajah), sedikit basa-basi biar tak terlalu monoton, mengikuti para pemuja cinta, yang tak mengerti hakekat cinta itu sendiri. Mungkin otakku dipenuhi dramatisasi layaknya sinetron di media pertelevisian, namun ini memang membiusku, mengapa aku harus bertekuk lutut dengan halusinasi ini, padahal logikaku masih bersembunyi di bagian kiri otakku, sejak itu, benar aku tak mampu mengimbangi emosi yang menurunkan ranking logika ku di tahta tertinggi, whats??? yes, ini seperti sandiwara aku menjadi raja dan kau ialah ratu. membosankan jika mereka melihat sandiwara ini, yaitu aku dan kau, mereka melihat hal yang sama, dengan hari-hari yang kita alami, mungkin ini jebakan atau memang ini benar perasaan cinta, hari-hariku tak berarti, selain dengan kau, kau ratu diatas logikaku, kau monster penyayatku, kau penghianat tapi kau kumaafkan, dan kau, kau, kau, pikiranku sedikit kacau dengan kata-kata utopis KAU.. sedikit ku protes KAU yang tak lebih dari................(DAMN)
Langganan:
Postingan (Atom)