Jumat, 20 Januari 2012
zaman hegemoni
karya inovasi-inovasi itu membuatku salut atas kerja keras mereka, ku angkat topi dengan karya mereka, pemuda-pemuda penerus roda perputaran dunia, merobohkan sistem lama, generasi tua teganti dengan otak-otak penyegar. Satu persatu pembangunan direncanakan, dibangunnya gedung-gedung pencakar langit melampaui kubah suci itu. Tak terlewatkan ambisi-ambisi praktis mengikuti gerak zaman yang semakin cepat ini. Begitu pula sejarah, periode zaman terus silih berganti, mengikuti korelasi komunikasi aktor-aktor pengisi sejarah. Sampailah dengan zaman yang terelakan, zaman dimana manusia tak seperti manusia, zaman dibumbui berbagai rasa nilai-nilai sajian peradaban, sangat elok ketegangan peradaban yang dinobatkan peradaban modern, dengan perangkat praktis dan produk instan yang dihasilkan. Kemampuan yang tak terkendali mengunci fitrah individu-individu yang dapat melihat cahaya-cahaya keramahan, toleransi, menghargai, tanggung jawab maupun religiusitas. Bukankah memang fakta apabila zaman ini akan membungkam pikiran-pikiran kolot atau fundamental yang tak mampu mengikuti gerak modernisasi, yang membentuk monster liberalisasi, zaman mencaci orang-orang yang tak sejalan dengan prinsip dasar modernisasi, digantikan dengan sajian segar tersaji bagaikan makanan prasmanan pada suatu pesta kerajaan , yang bebas memilih dengan kehendaknya, dari keluarga raja merambah ke rakyat jelata yang dengan pesta bar-bar yang mereka gelar, dimana harus ditempatkan nilai-nilai suci ini, padahal zaman mulai memperlihatkan kesombongan-kesombongan dan keangkuhannya, dimana harus berlari jiwa-jiwa pencerah itu, ini bukan kesalahan yang tak ada sebab dan ini perkembangan natural, zaman memang bukan aktor aktif pelempar efek domino yang harus di paradigmakan sebagai zaman tak ramah, zaman di isi manusia, manusia penuh dengan karya dan inovasi yang terus merubah wajah zaman, namun mereka lupa mengenai keberadaannya, terkesan lupa dengan ibu pertiwinya tempat dimana mereka berlabuh, tempat dimana mereka harus bertanggung jawab, ini hanya sedikit dari makian dunia zaman ini, bukan zaman yang dipersalahkan , namun pengisi zaman yang terlalu brutal mengendalikan laju kehidupan tanpa landasan yang jelas yaitu dari fitrah sebenarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
wah wah wah mantap krisss...
BalasHapus